Skip to content
  • Beranda
  • Layanan Solusi
    • Energi
    • Finansial
    • Healthcare
    • Retail
    • Singularity Complete
    • Singularity Core
    • Singularity Control
    • Singularity Ranger IoT
  • Blog
  • Kontak Kami
placeholder-661-1-1.png
  • Beranda
  • Layanan Solusi
    • Energi
    • Finansial
    • Healthcare
    • Retail
    • Singularity Complete
    • Singularity Core
    • Singularity Control
    • Singularity Ranger IoT
  • Blog
  • Kontak Kami

Tag: Keamanan siber

August 5, 2026

Autonomous SOC: Strategi Keamanan Efektif untuk Bisnis

Mengapa Bisnis Anda Membutuhkan Autonomous SOC? Dunia keamanan siber saat ini dipenuhi dengan tren AI. Banyak penyedia solusi menjanjikan teknologi otomatisasi canggih untuk menyelesaikan masalah keamanan secara instan. Namun, kenyataan di lapangan bagi tim Autonomous SOC seringkali jauh berbeda. Analis keamanan saat ini kewalahan dengan ribuan peringatan setiap hari. Banyak dari peringatan tersebut adalah alarm palsu yang membuang waktu berharga. Sementara itu, ancaman siber nyata terus bergerak dengan kecepatan milidetik. Inilah alasan mengapa konsep Autonomous SOC menjadi krusial bagi keberlangsungan bisnis modern. Konsep ini menjanjikan sistem keamanan yang mampu mendeteksi, menyelidiki, dan merespons ancaman secara mandiri. Tanpa harus menunggu intervensi manusia di setiap langkah, tim Anda bisa bekerja lebih strategis. Mari kita bahas lebih dalam cara membangun sistem ini agar benar-benar berfungsi di dunia nyata. Memahami Model Kematangan Autonomous SOC Sebelum melangkah, Anda harus mengetahui posisi organisasi Anda saat ini. Banyak perusahaan merasa sudah canggih, padahal masih terjebak di tahap dasar. Tingkat 1: Reaktif (Manual): Tim mengandalkan analisis manusia untuk memeriksa setiap alarm secara manual. Ini sangat melelahkan dan rentan kesalahan. Tingkat 2: Berbasis Aturan: Menggunakan skrip kaku untuk menangani ancaman. Sistem ini sering lumpuh jika menghadapi variasi serangan baru. Tingkat 3: Terbantu AI (AI-Assisted): AI mulai menyaring alarm, namun keputusan akhir masih bergantung pada manusia. Tingkat 4: Autonomous SOC Nyata: Teknologi bekerja mandiri. Sistem melakukan investigasi, menghubungkan data, dan mengambil tindakan respons secara otomatis. Sebagian besar organisasi masih tertahan di tingkat 1 atau 2. Mengidentifikasi posisi Anda adalah kunci untuk menentukan langkah transformasi selanjutnya. Hambatan Nyata dalam Implementasi AI Banyak pemimpin IT menganggap kerumitan teknologi sebagai hambatan terbesar. Padahal, tantangan utamanya adalah kepercayaan dan tata kelola (governance). Tim keamanan sering takut memberikan kendali otomatisasi kepada AI karena khawatir sistem akan mengganggu operasional bisnis. Ketakutan ini wajar jika Anda menggunakan sistem otomatisasi “kotak hitam” yang tidak transparan. Kunci dari Autonomous SOC yang sukses adalah respons otomatis yang terkendali. Anda memerlukan sistem yang memberikan transparansi penuh tentang alasan di balik suatu tindakan. Selain itu, Anda harus menetapkan batasan yang jelas agar AI bekerja sesuai koridor bisnis. SentinelOne: Solusi Autonomous SOC yang Efektif SentinelOne menghadirkan pendekatan baru dalam mengamankan bisnis. Teknologi kami memungkinkan investigasi mendalam bertenaga AI yang jauh lebih cepat daripada proses manual. Ketika ada indikasi ancaman, AI SentinelOne tidak hanya memberikan peringatan. Sistem kami mengumpulkan seluruh konteks, mulai dari asal ancaman hingga dampak file yang terpengaruh. Proses investigasi yang memakan waktu berjam-jam kini selesai dalam hitungan detik. Selain itu, fitur Governed Automated Response memberikan kendali penuh kepada Anda. Anda bisa mengatur aturan main, seperti isolasi perangkat otomatis untuk ancaman ringan, namun tetap memerlukan persetujuan manusia untuk tindakan pada aset kritis. Cara Memulai Perjalanan Keamanan Anda Membangun Autonomous SOC tidak berarti Anda harus membuang investasi teknologi saat ini. Mulailah dengan langkah strategis: Fokus pada Endpoint dan Identitas: Amankan dua area ini terlebih dahulu dengan teknologi berbasis agen otonom. Kurangi Ketergantungan pada Aturan Manual: Gunakan solusi pembelajaran mesin perilaku untuk mendeteksi ancaman secara dinamis. Tingkatkan Kemampuan Tim: Biarkan AI menangani tugas rutin agar tim Anda bisa fokus pada threat hunting tingkat tinggi. Kesimpulan: Masa Depan Keamanan Siber Ancaman siber tidak akan menunggu tim Anda selesai menganalisis ribuan log. Bertahan dengan cara manual adalah risiko besar bagi kelangsungan bisnis Anda. Teknologi Autonomous SOC dari SentinelOne membantu meningkatkan efisiensi tim hingga 10 kali lipat dan menghentikan serangan sebelum kerusakan terjadi. Sentinelone Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi Sentinelone. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.

Read More
July 24, 2026

Agentic SOC: Solusi Pertahanan Siber Cepat SentinelOne

Mengapa Agentic SOC Menjadi Kebutuhan Mendesak? Setiap hari, tim Security Operations Center (SOC) di berbagai perusahaan besar berpacu dengan waktu. Seorang analis keamanan sering kali memulai giliran kerjanya dengan menatap ribuan peringatan atau alerts yang menumpuk. Proses manual seperti berpindah-pindah konsol, mencocokkan alamat IP, dan menunggu kueri basis data sangat membuang waktu. Oleh karena itu, efisiensi operasional menjadi hambatan utama dalam menjaga keamanan perusahaan. Di sisi lain, penyerang siber kini menggunakan otomatisasi berkecepatan tinggi untuk menerobos jaringan. Mereka mampu mengeksfiltrasi data dalam hitungan detik. Jika organisasi masih mengandalkan proses manual, pertarungan ini menjadi sangat tidak seimbang. Agentic SOC hadir sebagai paradigma baru operasi keamanan berbasis AI yang mengubah data terfragmentasi menjadi kecepatan pertahanan atau defensive velocity. Akar Masalah SOC Modern: Kekacauan Data di Hulu Banyak organisasi mengalami kelelahan atau burnout pada tim SOC karena fondasi data yang buruk. Setiap hari, infrastruktur IT menghasilkan jutaan log telemetri dari firewall, workload cloud, hingga sistem identitas. Sayangnya, data ini hadir dalam format dan skema yang berbeda-beda. Sebelum melakukan investigasi, tim IT terpaksa menghabiskan banyak waktu untuk menyelaraskan data mentah tersebut. Hal ini merupakan alokasi kecerdasan manusia yang keliru. Saat analis membuang waktu mengolah data, fokus strategis mereka hilang. Akibatnya, fondasi keamanan perusahaan berada dalam kondisi rentan terhadap serangan yang canggih. Merapikan Data dengan Singularity AI Data Pipelines Organisasi harus menyelesaikan masalah data di hulu agar tidak masuk ke sistem deteksi dalam kondisi berantakan. Singularity AI Data Pipelines dari SentinelOne memberikan solusi otomatis untuk kekacauan data: Standarisasi Otomatis (OCSF Alignment): Data telemetri diselaraskan ke format standar OCSF. Analis tidak perlu lagi menulis skrip regex yang rumit. Optimasi Aliran Data: Sistem menyaring kebisingan dan mengarahkan data bernilai tinggi untuk pencarian cepat, sementara log kepatuhan disimpan secara efisien. Pengayaan Otomatis: Sebelum peringatan mencapai analis, sistem telah menambahkan konteks identitas, seperti mengetahui laptop eksekutif mana yang sedang berkomunikasi dengan botnet. Dengan fondasi yang bersih, platform Singularity AI SIEM mampu mengeksekusi kueri data skala besar 70% lebih cepat. Hal ini memberikan kesadaran situasi atau situational awareness secara seketika bagi tim keamanan. Investigasi Otonom Melalui Era Agentic Reasoning Setelah data tertata, tingkat kecerdasan otonom dapat berjalan optimal. Di sinilah peran teknologi Agentic SOC berbasis penalaran agen seperti Purple AI dari SentinelOne sangat krusial. Berbeda dengan otomatisasi tradisional, Purple AI bekerja layaknya asisten investigator tingkat lanjut. Purple AI secara otonom meluncurkan penyelidikan saat ancaman terdeteksi dan memetakan potensi dampaknya. Saat analis masuk ke konsol, mereka langsung disajikan dengan ringkasan situasi yang terstruktur. Teknologi ini mampu merangkai peristiwa kecil, seperti perubahan kunci registry, menjadi narasi serangan yang utuh sebelum peretasan besar terjadi. Hiperotomatisasi Terkelola dengan Pengawasan Manusia Kecepatan bertahan memerlukan respons otomatis yang tepat. Melalui fitur Hyperautomation, organisasi dapat menggunakan alur kerja tanpa kode untuk mengisolasi perangkat terinfeksi secara instan. Namun, SentinelOne tetap menerapkan prinsip Human-in-the-Loop. Setiap tindakan dengan dampak besar tetap membutuhkan otorisasi analis. Dengan cara ini, tim Anda memegang wewenang penuh atas proses otomatisasi. Anda bisa menentukan kebijakan mana yang berjalan otomatis dan mana yang memerlukan keputusan pakar secara manual. Transformasi dari Manual ke Agentic SOC Tabel berikut merangkum perubahan signifikan dari cara kerja lama menuju sistem yang lebih cerdas: Parameter SOC Tradisional Agentic SOC Data Terfragmentasi Terstruktur via AI Investigasi Manual & Lambat Otonom via Purple AI Kueri Data Berbeban Berat 70% Lebih Cepat Kesimpulan: Memberdayakan Analis dengan Teknologi Tujuan utama penerapan Agentic SOC bukan menggantikan peran manusia, melainkan melipatgandakan kemampuan mereka. Dengan menyerahkan tugas berulang ke AI, analis kini bebas fokus pada pengambilan keputusan strategis. Satu orang analis yang dibantu AI mampu menyelesaikan beban kerja yang dulunya membutuhkan sepuluh orang. Jangan biarkan tim keamanan Anda terbebani oleh pengolahan data manual saat peretas menyerang dengan kecepatan mesin. Tingkatkan kecepatan pertahanan organisasi Anda sekarang juga. Hubungi tim SentinelOne Indonesia atau kunjungi sentinelone.ilogoindonesia untuk demonstrasi langsung platform Singularity dan Purple AI. Mari ubah data mentah menjadi kecepatan pertahanan yang tangguh bersama iLogo Indonesia.

Read More
July 1, 2026July 6, 2026

Membongkar Jaringan Malware Saja Tidak Cukup: Saatnya Organisasi Beralih ke Keamanan Siber yang Lebih Proaktif

Setiap kali aparat keamanan internasional mengumumkan keberhasilan membongkar jaringan malware, menutup server berbahaya, atau menyita infrastruktur yang digunakan pelaku kejahatan siber, kabar tersebut tentu menjadi angin segar bagi dunia keamanan digital. Operasi semacam ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, lembaga penegak hukum, dan perusahaan teknologi mampu memberikan dampak nyata dalam mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan siber. Namun, di balik keberhasilan tersebut terdapat satu kenyataan yang tidak boleh diabaikan. Infrastruktur dapat disita, domain dapat ditutup, bahkan jutaan kredensial yang dicuri dapat diamankan. Akan tetapi, metode serangan, teknik penyusupan, dan kelompok ancaman yang berada di balik operasi tersebut terus berkembang. Ketika satu jaringan berhasil dihentikan, jaringan lain sering kali sudah dipersiapkan untuk menggantikannya. Inilah alasan mengapa organisasi tidak dapat hanya mengandalkan keberhasilan operasi penegakan hukum sebagai perlindungan utama. Keamanan siber modern menuntut pendekatan yang lebih proaktif, cerdas, dan mampu mendeteksi ancaman sejak tahap paling awal sebelum berdampak pada bisnis. Kejahatan Siber Kini Beroperasi Layaknya Industri Beberapa tahun lalu, serangan siber umumnya dilakukan oleh individu atau kelompok kecil dengan sumber daya terbatas. Kini situasinya sangat berbeda. Banyak kelompok kriminal beroperasi layaknya perusahaan dengan pembagian tugas yang jelas, mulai dari pengembang malware, penyedia infrastruktur, operator ransomware, hingga pihak yang bertugas mencuci hasil kejahatan melalui mata uang kripto. Model bisnis seperti Malware-as-a-Service (MaaS) memungkinkan pelaku yang tidak memiliki kemampuan teknis tinggi untuk menjalankan serangan hanya dengan menyewa layanan yang telah disiapkan pihak lain. Akibatnya, jumlah serangan meningkat karena hambatan untuk menjadi pelaku kejahatan siber semakin rendah. Penutupan satu infrastruktur memang dapat mengganggu operasi mereka, tetapi selama model bisnis tersebut masih menguntungkan, pelaku akan terus membangun infrastruktur baru. Mengapa Infrastruktur Malware Sangat Sulit Diberantas? Server, domain, dan layanan cloud merupakan fondasi yang mendukung berbagai aktivitas kejahatan siber. Infrastruktur tersebut digunakan untuk mengendalikan malware, mencuri data, mengirimkan perintah kepada perangkat korban, hingga menyimpan hasil pencurian informasi. Ketika aparat berhasil menyita ratusan server atau domain berbahaya, dampaknya memang signifikan. Banyak kampanye serangan terhenti dan korban baru dapat dicegah. Namun, pelaku sering kali telah menyiapkan server cadangan di berbagai negara, menggunakan layanan cloud publik, atau memanfaatkan teknik otomatisasi untuk membangun kembali infrastruktur mereka dalam waktu singkat. Artinya, organisasi tidak boleh hanya mengandalkan pemblokiran domain atau daftar indikator kompromi (IOC). Dibutuhkan kemampuan untuk memahami perilaku ancaman sehingga serangan tetap dapat dihentikan meskipun infrastruktur yang digunakan berubah. Dari Deteksi Berbasis Indikator Menuju Deteksi Berbasis Perilaku Selama bertahun-tahun, banyak solusi keamanan mengandalkan tanda tangan malware (signature), alamat IP, atau domain yang telah diketahui berbahaya. Pendekatan ini efektif terhadap ancaman yang sudah dikenali, tetapi sering kali kurang mampu menghadapi varian baru yang belum pernah teridentifikasi. Kelompok ancaman modern dapat mengganti nama file, membuat domain baru, atau memodifikasi malware dalam hitungan menit. Jika pertahanan hanya bergantung pada indikator statis, maka peluang serangan lolos dari deteksi menjadi lebih besar. Pendekatan berbasis perilaku menawarkan solusi yang lebih adaptif. Sistem tidak hanya melihat “apa” yang digunakan penyerang, tetapi juga “bagaimana” mereka beroperasi. Aktivitas seperti eskalasi hak akses, pergerakan lateral, eksekusi skrip yang tidak biasa, atau upaya mengakses kredensial dapat dikenali sebagai perilaku mencurigakan meskipun belum pernah terlihat sebelumnya. Pentingnya Visibilitas Menyeluruh terhadap Endpoint Banyak serangan dimulai dari endpoint, baik berupa laptop karyawan, workstation administrator, maupun server yang menjalankan aplikasi bisnis. Endpoint menjadi pintu masuk utama karena berinteraksi langsung dengan pengguna, aplikasi, dan jaringan. Tanpa visibilitas yang memadai, organisasi mungkin baru menyadari adanya serangan setelah data berhasil dicuri atau ransomware mulai mengenkripsi file. Solusi keamanan modern perlu mampu memberikan informasi secara real-time mengenai aktivitas yang terjadi di setiap endpoint. Dengan visibilitas yang menyeluruh, tim keamanan dapat memahami rantai serangan, mengidentifikasi perangkat yang terdampak, dan mengambil tindakan sebelum ancaman menyebar ke sistem lain. Kecepatan Respons Menjadi Penentu Dalam banyak kasus, keberhasilan serangan bukan ditentukan oleh kecanggihan malware semata, tetapi oleh lamanya waktu yang dibutuhkan organisasi untuk mendeteksi dan merespons insiden. Semakin lama ancaman berada di dalam jaringan tanpa terdeteksi, semakin besar peluang pelaku mencuri data, mengubah konfigurasi sistem, atau menyebarkan ransomware. Oleh karena itu, otomatisasi menjadi komponen penting dalam strategi keamanan siber. Kemampuan untuk mengisolasi endpoint, menghentikan proses berbahaya, menghapus artefak serangan, dan memulihkan sistem secara cepat dapat mengurangi dampak insiden secara signifikan. Menghadapi Ancaman yang Terus Berevolusi dengan AI Pelaku ancaman kini mulai memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan efektivitas serangan, mulai dari membuat email phishing yang lebih meyakinkan hingga mengotomatisasi proses eksploitasi. Sebagai respons, organisasi juga perlu memanfaatkan AI untuk memperkuat pertahanan. AI dapat membantu menganalisis jutaan peristiwa keamanan setiap hari, menghubungkan berbagai indikator ancaman, serta memberikan prioritas terhadap insiden yang benar-benar memerlukan perhatian. Dengan dukungan AI, tim keamanan tidak lagi kewalahan menghadapi volume alert yang sangat besar dan dapat lebih fokus pada ancaman dengan risiko tertinggi. Mengapa Pendekatan Terintegrasi Lebih Efektif? Keamanan siber tidak lagi dapat bergantung pada satu jenis solusi. Endpoint, identitas, jaringan, cloud, dan workload harus dipantau sebagai satu ekosistem yang saling terhubung. Pendekatan terintegrasi memungkinkan organisasi memperoleh konteks yang lebih lengkap mengenai setiap aktivitas. Ketika sebuah endpoint menunjukkan perilaku mencurigakan, informasi tersebut dapat dikaitkan dengan aktivitas pengguna, akses ke cloud, maupun komunikasi jaringan sehingga investigasi menjadi lebih cepat dan akurat. Pendekatan ini juga membantu mengurangi kompleksitas operasional karena tim keamanan tidak perlu berpindah-pindah antar berbagai konsol yang terpisah. SentinelOne: Membantu Organisasi Beralih dari Reaktif ke Proaktif Menghadapi ancaman yang semakin kompleks membutuhkan teknologi yang mampu bekerja lebih cepat daripada penyerang. SentinelOne menghadirkan platform keamanan berbasis AI yang dirancang untuk mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman secara otomatis di berbagai lingkungan, mulai dari endpoint, server, cloud workload, hingga identitas digital. Melalui kemampuan analisis perilaku, machine learning, dan otomatisasi respons, SentinelOne membantu organisasi mengidentifikasi aktivitas mencurigakan bahkan ketika ancaman tersebut belum memiliki signature atau indikator yang dikenal. Visibilitas yang menyeluruh, investigasi yang cepat, serta kemampuan remediasi otomatis memungkinkan tim keamanan mengurangi waktu deteksi dan respons secara signifikan. Dengan pendekatan ini, organisasi tidak hanya bereaksi setelah insiden terjadi, tetapi mampu membangun pertahanan yang lebih adaptif terhadap ancaman yang terus berkembang. Kesimpulan Keberhasilan aparat internasional membongkar jaringan malware merupakan langkah penting dalam mengurangi aktivitas kejahatan siber global. Namun, operasi semacam itu hanyalah satu bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang lebih aman. Infrastruktur kriminal dapat dibangun kembali,…

Read More
January 26, 2023October 17, 2024

SentinelOne Turut Serta Perkuat Keamanan Siber AS serta Internasional

California – SentinelOne, perusahaan platform keamanan siber otonom, baru saja mengumumkan keanggotaannya dalam Joint Cyber ​​Defense Collaborative (JCDC). Mereka turut serta mendukung strategi pemerintah AS maupun internasional dalam memperkuat keamanan siber dan infrastruktur penting. Didirikan pada tahun 2021, oleh Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA), JCDC dirancang untuk menyatukan komunitas siber seluruh dunia dalam pertahanan kolektif keamanan siber. Platform keamanan siber otonom SentinelLabs dan SentinelOne akan membantu JCDC mengumpulkan, menganalisis, dan berbagi informasi tentang ancaman siber. SentinelOne dan SentinelLabs  Siap Mendukung JCDC “JCDC melampaui kemitraan publik-swasta lainnya, menghadirkan keterlibatan kolaboratif antara pemikir dunia maya terkemuka di US yang fokus pada perencanaan, tindakan, dan mitigasi ,” kata Jared Phipps,  Americas Sales and Solution Engineering dari SentinelOne.  “Dengan kecepatan, skala, dan kecerdasan yang luar biasa, tim dan teknologi kami akan memainkan peran penting dalam kesuksesan berkelanjutan organisasi. Kami telah bermitra erat dengan CISA selama bertahun-tahun dan berharap dapat melanjutkan hubungan tersebut, membantu melindungi aset dan informasi paling penting di dunia,” tambahnya.  Sebagai bagian dari keanggotaannya, JCDC akan memanfaatkan keahlian SentinelLabs , tim peneliti keamanan kelas dunia yang mengidentifikasi dan menganalisis kerentanan kritis, vektor serangan baru, jenis malware, dan pelaku ancaman. Sebagai bagian dari kolaborasi, SentinelOne akan memberi JCDC wawasan dan dukungan dalam perencanaan dan saran strategis. Kemitraan ini akan memberi JCDC visibilitas tak tertandingi ke dalam ancaman yang muncul dan membantu mereka tetap berada di depan serangan potensial. JCDC terdiri dari berbagai kelompok perusahaan keamanan siber, pemilik infrastruktur penting, dan mitra pemerintah, termasuk Komando Siber AS, Badan Keamanan Nasional, Biro Investigasi Federal, Departemen Kehakiman, Kantor Direktur Intelijen Nasional, Kantor Departemen Pertahanan AS, Dinas Rahasia AS, dan Departemen Keamanan Dalam Negeri. Tentang Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) sendiri adalah agensi federal di Amerika Serikat yang berfokus pada meningkatkan keamanan infrastruktur nasional melalui pencegahan, deteksi, dan respon terhadap ancaman cyber. CISA didirikan pada 2018 sebagai bagian dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS dan memiliki mandat untuk mengelola risiko cyber terhadap infrastruktur kritis di AS, termasuk sistem energi, transportasi, pemerintah, dan komunikasi. CISA juga bertanggung jawab untuk memberikan dukungan teknis dan analitis kepada organisasi pemerintah dan swasta dalam mengelola risiko cyber. CISA bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk industri, pemerintah, dan organisasi internasional untuk meningkatkan kesadaran cyber dan meningkatkan kapasitas pertahanan cyber. Tentang Kolaborasi Pertahanan Siber Gabungan Berdasarkan otoritas baru dari Kongres, Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) mendirikan JCDC pada Agustus 2021 untuk mengubah kemitraan publik-swasta tradisional menjadi kolaborasi operasional swasta-publik secara real-time dan mengubah paradigma dari bereaksi terhadap ancaman dan kerentanan menjadi perencanaan secara proaktif dan mengambil langkah-langkah untuk menguranginya. JCDC menggabungkan visibilitas, wawasan, dan inovasi sektor swasta dengan kemampuan dan otoritas ekosistem dunia maya federal untuk secara kolektif menurunkan risiko dunia maya pada skala nasional. Pelajari lebih lanjut tentang JCDC di CISA.gov/JCDC . Tentang SentinelOne Solusi keamanan siber SentinelOne mencakup pencegahan, deteksi, respons, dan perburuan bertenaga AI di seluruh titik akhir, kontainer, beban kerja cloud, dan perangkat IoT dalam satu platform XDR otonom.

Read More
  • Previous
  • 1
  • 2

Recent Posts

  • Keamanan Siber: Kabar Baik, Buruk, dan Ancaman Terbaru
  • Kerentanan MikroTik RouterOS: Lindungi Jaringan SentinelOne
  • Keamanan Siber: Analisis Ancaman dan Operasi Global Terkini
  • SentinelOne Melawan Blind Eagle: Analisis Serangan Malware
  • Jalan Menuju SOC Otonom: Evolusi AI dalam Keamanan Siber

user_logo

I got lucky because I never gave up the search. Are you quitting too soon? Or, are you willing to pursue luck with a vengeance?

       

Categories

  • Blog
  • Uncategorized

Popular Requests

AI AI Governance AI Security Ancaman Digital Artificial Intelligence Blind Eagle Bring Your Own EDR ChainDrop Cloud Security Cyber Crime cybersecurity Data Breach Data Poisoning Data Protection Endpoint Protection HPC Identity Security Infrastruktur AI IT Infrastructure Keamanan AI Keamanan siber Kecerdasan Buatan Kerentanan MikroTik malware Malware Prevention MFA Microsoft Defender Network Security Patch Management Perlindungan Data perlindungan endpoint Phishing Platformisasi PPL Windows Ransomware RouterOS sentinelone Sentinel one sentinelone indonesia Singularity SOC SOC Otonom Supply Chain Attack Threat Intelligence Zero-Day

Advertizing Spot

Contacts

8 800 2563 123

[email protected]

27 Division St, New York, NY 10002, United States

SentinelOne Indonesia adalah bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi SentinelOne. Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.

Kontak Kami

PT iLogo Indonesia

AKR Tower – 9th Floor
Jl. Panjang no. 5, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11530 – Indonesia

  • [email protected]